Rabu, 25 Mei 2011

Kedzaliman Terhadap Umat Islam Indonesia

Reformasi, tidak saja berhasil menumbangkan singgasana kekuasaan rezim diktator Soeharto pada tanggal 21 mei 1998 yang telah bercokol selama 32 tahun lamanya. Tetapi juga berhasil mengungkapkan misteri politik rezim-rezim penguasa Indoenesia yang selama bertahun-tahun mencekam dan mencengkram kehidupan masyarakat dan terlebih khusus umat islam Indonesia. Dan lebih dari itu, reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa dan rakyat mampu menggelindingkan kebebasan berbicara dan membuka hati kita. Ternyata ada yang salah dalam pengelolaan negeri ini. Sehingga bangsa Indonesia ditimpa musibah dahsyat di bidang ekonomi, politik, sosial, moral dan hukum.

Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia tidaklah muncul begitu saja. Namun melalui proses perjuangan panjang yang telah dilampauinya. Kedatangan bangsa eropa yang membawa alat perang serat semboyan imperialis yang mengusung gospel-gold-glory telah menyengsarakan masyarakat Indonesia. Umat islam Indoensia punya peranan yang menentukan dalam dinamika perjuangan untuk mendapat kemerdekaan Indonesia. Dimulai dengan perlawanan kerajaan-kerajaan islam melawan kolonial, meskipun perlawanan ini masih bersikap parsial antar kerajaan tetapi sangat memberikan efek resah terhadap penjajah. Walaupun akhirnya perlawanan pada fase ini terkalahkan oleh penjajah.

Meskipun demikian, semngat rakyat tidak pudar melawan penjajahan kolonial. Maka selanjutnya perjuangan melawan penjajahan diteruskan oleh rakyat yang dipimpin oleh ulama. Pada fase inilah muncul era gerakan sosial merata di seluruh pelosok tanah air. Sifat militan yang dimiliki oleh semua gerakan sosial ini ternyata bisa menggoyahkan kekuasaan penjajahan kolonial. Pada fase ini kekuatan militer penjajah kolonial sudah mulai kalang-kabut melawan kekuatan rakyat Indonesia yang banyak dimotori oleh umat Islam Indonesia beserta para ulama.

Terbentuknya Sarekat Dagang Islam (1905), Sarekat Islam (1912), Muhammadiyah (1912), Persisi (1920), Nahdatul Ulama (1926), Boedi Oetomo (1908) adalah awal dari pada kesadaran rakyat Indonesia untuk bangkit dan segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia agar diakui oleh dunia sebagai bangsa yang berdaulat dan memiliki kemerdekaan penuh serta dapat dengan segera mengakhiri penderitaan rakyat Indonesia yang diakibatkan penjajahan kolonial.

Perjuangan umat Islam Indonesia tidak putus sampai disitu, karena walaupun Indonesia telah melaksanakan proklamasi kemerdekaanya pada tanggal 17 agustus 1945. kondisi Indonesia belum stabil dengan adanya berbagai usaha pihak Belanda masih ingin menguasai beberapa wilayah Indonesia. Adanya Askar Perang Sabil (APS) dan MOSI INTEGRAL NATSIR merupakan sumbangsih umat Islam Indonesia yang sangat berani dalam eksistensi Negara kesatuan republik Indionesi (NKRI).

Itulah potret sekilas peranan umat Islam dalam perjuangan Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaanya yang utuh dalam kerangka NKRI. Dengan demikian umat Islam adalah sebagai pelopor kemerdekaan Indonesia bahkan bisa dikatakan pemilik sah bangsa Indonesia adalah umat Islam. Karena ribuan umat Islam beserta ulamanya gugur dalam medan juang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Tapi mengapa jasa umat Islam Indonesia yang begitu besar dibalas dengan kezaliman semua rezim yang pernah berkuasa di NKRI. Apa dosa umat Islam Indonesaia sehingga selalu dijadikan sasaran kelaliman dan kezaliman para penguasa diktator.


Fakta-fakta Kezaliman Terhadap Umat Islam Indonesia

1. Penghapusan Piagam Jakarta (18 Agustus 1945)

Kira-kira satu bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945 telah terjadi perdebatan sengit antara dua kubu: Kelompok santri dan abangan yang tergabung dalam “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” merupakan sebuah badan yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang guna mencari dasar bagi kemerdekaan Indonesia serta mendiskusikan UUD Republik di masa datang. Pada akhirnya dicapailah suatu kesepakatan yang memuat kerangka undang-undang Negara Indonesia sekaligus lima dasar Pancasila.

Para wakil muslim di dalam badan ini berhasil mengokohkan prinsip yang memungkinkan untuk memberikan warna keislaman dan menonjolkan kepribadian Islam dengan menambahkan kalimat “Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya”. Kesepakatan ini kemudian diterima sebagai pembukaan undang-undang dasar yang dikenal dengan piagam Jakarta. Akan tetapi ketika UUD ini diumukan pada tanggal 18 agustus 1945 sehari setelah setelah proklamasi kemerdekaan kalimat tersebut dihapuskan melalui tangan pemimpin diktator-sekuler Soekarno yang kemudian diangkat menjadi Presiden RI yang pertama. Dengan kejadian ini, maka kemenangan yang semula berada di tangan kaum muslim berubah menjadi serangan dan penistaan. Dihapusnya tujuh kalimat yang terdapat di dalam piagam Jakarta pada akhirnya menimbulkan permusuhan berkelanjutan selama 20 tahun pertama semenjak berdirinya Republik Indonesia.

2. Penumbangan Partai MASYUMI (1960)

Masyumi selalu menjadi anggota paling menonjol dalam kabinet pemerintahan pertama yang dibentuk sejak 1948 dan seterusnya. Kemudian memperoleh kursi Perdana Menteri berulang kali. Sekalipun kekuatannya makin bertambah setelah pemilu 1955, tetapi pada periode selanjutnya mengalami kemerosotan. Partai ini terlibat dalam gerakan daerah melawan diskriminasi pemerintahan pusat yang disponsori oleh Darul Islam. Perlawanan ini ditumpas oleh pemerintahan pusat dan militer hingga keakar-akarnya. Masyumi juga beroposisi terhadap presiden Soekarno yang berkolaborasi dengan PKI.

Dengan sikap seperti itu, dijadikan alasan oleh Jendral Abdul Haris Nasution untuk menumpas Masyumi. Kemudian pada tahun 1960 Soekarno melarang aktifitas partai masyumi untuk selamanya.

3. Asas Tunggal Pancasila (1970)

Rezim diktator Soeharto dimulai dengan babak baru dengan upaya pengebirian gerakan-gerakan Islam dengan dipaksakanya asas tunggal Pancasila bagi semua partai politik Islam maupun organisasi sosial kemasyarakatan Islam. Sehingga semua gerakan harus sama dan sejalan dengan kemauan syahwat rezim diktator Soeharto dengan konco-konconya. Tak dapat dielakkan adanya perlawan dari parpol Islam maupun ormas Islam yang jelas-jelas memiliki garis gerakan perjuangan.

Perlawanan ini berakibat pada tuduhan subversi dan upaya pemerintah untuk mengahabisi gerakan ini. Tak ayal umat islam Indonesia yang menjadi sasaran intaian utama. Dakwah yang menjadi sarana pendidikan bagi umat Islam dikebiri dengan hanya boleh menyampaikan materi-materi yang pro dengan pemerintah. Menyinggung sedikit saja akan dituduh sebagai upaya subversi yang berakibat pada bui dan penyiksaan. Lain lagi kalau gerakan ini bersifat kolektif, maka militer akan bertindak dengan kekuatan perang yang siap untuk membantai pimpinan beserta pengikutnya.

4. Pembantaian Tandjung Priok (12 September 1984)

Koja, adalah lokasi dimana peristiwa pembantaian Tanjung Priok terjadi. Merupakan daerah hunian kaum buruh galangan kapal, pabrik bangunan dan pekerja serabutan. Masjid merupakan barometer kehidupan, tempat berkumpulnya umat serta tempat melepas lelah dari kesemerawutan bagi penduduk di daerah semacam Tanjung Priok.

Peristiwa ini dimulai dengan adanya keharusan RUU organisasi sosial yang mengahruskan penerimaan asas tunggal Pancasila. Seorang dai menyampaikan ceramah di mushola kecil bernama Assa’adah dengan menjadikan topik tersebut sebagai pembahasan. Pada tanggal 7 September 1984, seorang Babinsa datang ke musholla dan memerintahkan untuk mencabut pamflet dan jadwal pengajian. Pada hari berikutnya Babinsa itu datang kembali bersama seorang prajurit untuk mengecek pamflet dan jadwal itu sudah dicopot atau belum. Beredar isu bahwa ketika Babinsa bersama prajuritnya itu masuk musholla dengan tidak melepas sepatu dan menyiram pamflet serta jadwal dengan air comberan.

Pada tanggal 10 September 1984, Syaifuddin Rambe dan Sufyan Sulaiman takmir masjid Baitul Makmur yang berdampingan dengan musholla as-Sa’adah berusaha untuk menenangkan suasana dan menyarankan kepada kedua prajurit supaya persoalanya disudahi dan dianggap selesai. Tetapi mereka menolak saran tersebut. Tiba-tiba saja salah seorang dari kerumunan massa menarik sepeda motor milik salah seorang prajurit yang ternyata seorang marinir kemudian dibakar. Maka pada hari itu juga Syarifuddin Rambe, Sufyan Sulaiman, Ahmad Sahi pengurus musholla as-Sa’adah dan Muhammad Nur salah seorang yang ikut membakar motor.

Pada tanggal 12 September 1984, beberapa orang mubaligh termasuk Amir Biki yang mempunyai hubungan baik dengan beberapa Perwira di Jakarta berbicara dengan keras yang isinya menyampaikan ultimatum agar membebaskan para tahanan paling lambat pukul 23.00 WIB malam itu. Disaat ceramah telah usai massa telah berkumpul sekitar 1500 orang demonstran bergerak menuju kantor Polsek dan Koramil setempat. Sebelum massa tiba di tempat yang dituju, sekonyong-konyong mereka telah dikepung dari dua arah oleh pasukan bersenjata berat dalam posisi siaga tempur. Lalu terdengar suara tembakan kemudian diikuti oleh pasukan yang langsung mengarahkan moncong bedilnya kepada kerumunan massa demonstran. Sehingga dalam beberapa detik saja jalanan dipenuhi jasad manusia yang telah mati dan bersimbah darah.

Sembari para tentara mengusung korban yang telah mati dan luka-luka ke dalam truk-truk militer, tembakan terus berlangsung tanpa henti. Semua korban dibawa ke RS Militer di tengah kota Jakarta. Sedangkan RS lain diultimatum untuk tidak menerima pasien korban pembantaian Tanjung Priok. Setelah seluruh korban diangkut mobil-mobil pemadam kebakaran datang untuk membersihkan jalan dari genangan darah.

Peristiwa pembantaian Tanjung Priok adalah fakta kezaliman rezim diktator Soeharto dengan dalih subversi yang mengakibatkan hampir setiap keluarga kehilangan anggota keluarganya dengan jumlah ratusan korban meninggal dunia tanpa ada pengusutan hukum pada pihak militer sebagai pelaku.

5. Lampung Berdarah (7 Pebruari 1989).

Tragedi Lampung berdarah terjadi pada tanggal 7 Pebruari 1989 di dusun Talang Sari III, desa Raja Basa Lama, kota administratif Metro Lampung Tengah. Tragedi ini berawal dari undangan untuk mengikuti gotong royong di desa itu. Ajakan itu ditolak Anwar Warsidi karena ia berprinsip pantang seorang Ulama menghadap Umara. Penolakan ini dinilai sebagai pembangkangan terhadap pemerintah. Kades Amir pun melaporkan kelompok Anwar Warsidi ke Camat Way Jepara Koramil dan Kodim.

Lalu tersebarlah isu kelompok Anwar Warsidi sebagai GPK. Ajaran agamanya digolongkan sesat. Kelompok itu juga dituding melakukan latihan perang dengan panah, parang dan tombak. Penyerbuan ke markas Anwar Warsidi diawali penagkapan beberapa anak buahnya yang melakukan jaga malam di sekitar komplek pondok Warsidi pada tanggal 5 Pebruari 1989. Esoknya, Kapten Sutiman (Danramil Way Jepara) bersama beberapa anak buahnya datang ke pondok Warsidi.

Sambil mengeluarkan umpatan-umpatan kasar, rombongan Koramil memuntahkan tembakan ke sejumlah santri Warsidi. Melihat perilaku brutal itu, Warsidi memerintahakan anak buahnya menyerang. Sutiman tewas dan membuat tentara kalap. Perkampungan Warsidi diserbu dan dibumi-hanguskan dengan puluhan truk dan dua helikopter militer. Para korban tumpang tindih di puing-puing bangunan terdiri dari pria, wanita dan anak-anak. Karena peristiwa itu terjadi saat berlangsungnya pengajian akbar.

Ada beberapa versi soal tempat penguburan korban. Sebagian penduduk meyakini Warsidi dan para santrinya dikubur diladang milik Amir, yang tak jauh dari lokasi kejadian. Dan ada juga yang mengatakan dikubur secara terpisah di lokasi pemukiman. Dua tahun setelah kejadian (1991) beberapa truk mengangkut tentara masuk ke kawasan itu untuk menggali kuburan dan mengangkat tulang belulang ke dalam truk dan entah dibawa kemana. Tapi, sebagian tulang belulang dibakar untuk menghilangkan jejak tragedi ini.

Dalam kasus Lampung berdarah ini, yang menjadi fokus perhatian massa adalah Tri Sutrisno selaku Pangab dan Kolonel Hendro Priyono selaku Danrem 043 Garuda Hitam dengan tuduhan upaya penggulingan pemerintahan resmi (subversi).

Walaupun benar Warsidi dan para jama’ahnya melakukan subversi apakah punya hak pemerintah untuk membantai umat? Apakah tidak ada cara lain yang lebih represif?.

6. Tuduhan Islam Sebagai Terorist.

Genderang reformasi telah ditabuh. Kebebasan berarti telah dimulai dan kesengsaraan umat Islam Indonesia mulai lepas dari bayang-bayang diskriminasi rezim diktator Soeharto. Tapi, ternyata kezaliman pemerintah penguasa tidak kunjung habis juga. Umat Islam Indonesia terus menerus mengalami penistaan, penindasan, dan pelecehan baik secara fisik, mental, poloitik, pendidikan, ekonomi dan hampir disegala bidang kehidupan. Selama ini umat Islam Indonesia hanya disuguhi wacana indah tentang kerukunan, perdamaian, dan toleransi. Namun dan sikap perilaku pemerintah tidak menunjukan adanya niat yang menentramkan hati. Umat Islam menantikan kesungguhan pemerintah untuk menunjukan ittikad baiknya dalam bentuk tindakan konkrit.

Amerika sebagai Negara super power bak gebakaran jenggot tatkala pada tanggal 11 September 2001 menara kembar WTC sebagai simbol kedigdayaan Amerika runtuh di bobol pesawat terbang yang berhasil menerobos sistem keamanaan. Osamah bin Laden yang tertuduh sebagai arsitek peledakan ini menjadi target utama penangkapan teroris nomor satu dunia baik hidup ataupun mati.

Masalah tidak hanya selesai antara Amerika dan Osamah bin Laden, tetapi semua pergerakan Islam seluruh dunia juga menjadi sasaran amukan militer Amerika.

Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim tak luput dari plototan militer dan pemerintah Amerika. Amerika yang menjadi Negara super-power dengan lantang mengatakan akan melibas semua Negara yang melindungi gerakan teroris. Sudah jelas yang dituju adalah gerakan Islam.

Peristiwa peledakan bom di Legian Kuta Bali pada tanggal 12 Oktober 2002, tuduhan gagasan pembunuhan Presiden Megawati pada tahun 2001, peledakan malam Natal pada tahun 2000, peledakan di depan Konjen Filipina pada tanggal 12 Oktober 2002, peledakan Hotel JW. Marriot pada tanggal 5 Agustus 2003, pemboman di depan Kedubes Autralia pada tanggal 9 September 2004, semua peristiwa ini dituduhkan pada gerakan teroris Islam radikal. Padahal tidak ada bukti bahwa itu murni perbuatan umat Islam. Padahal, banyak fakta dan data yang mendukung bahwa peristiwa-peristiwa itu adalah hasil rekayasa oknum pemerintah yang sudah menjadi pesanan Amerika. Walaupun benar banyak aktivis muslim yang terlibat, tetapi tidak luput dari penyusupan intel untuk menguatkan opini bahwa gerakan Islam benar-benar teroris yang berbahaya.

Tak ayal, banyak aktivis muslim yang ditangkap oleh aparat yang memang sudah kong-kalikong dengan kepentingan Amerika dengan tuduhan adanya kaitan pergerakan dengan al-Qaeda. Padahal dengan tuduhan pasal 13 Undang-Undang Anti Terorisme nampaknya tetap sulit menjerat semua tuduhan terhadap aktivis muslim ini.



Penutup

Nasib yang menimpa umat islam Indonesia yang tidak kunjung usai entah sampai kapan akan melanda. Mungkin selama kejurigaan terhadap ajaran Islam yang Hanif tetap ada. Maka kezaliman dan diskriminasi tidak akan usai. Ataukah mungkin karena ajaran Islam yang pro dengan keadilan dan sangat menentang akan kemungkaran sosial sangat bertentangan dengan nafsu sahwat berkuasa para penguasa dan calon-calon penguasa Indonesia, sehingga mereka tidak akan mau untuk berjalan dan bergandeng tangan dengan umat Islam Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA



Adam Soepardjan. Mendobrak Penguasa Rezim Soeharto. Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2004.


Ahmad Adaby Darban. Peranan Islam Dalam Perjuangan Indonesia. Yogyakarta : Makalah, 1989.


Fauzan Al-Anshori. Melawan Kezaliman. Jaktim : Pustaka Basyira, 2005.


Irfan S. Awwas. Apa Dosa Rakyat Indonesia. Yogyakarta : Wihdah Press, 2005.


Irfan S. Awwas. Trauma Lampung Berdarah : Dibalik Manufer Hendro Priyono. Yogyakarta : Wihdah Press, 2000.


Team Peduli Tapol : Amnesti Internasional. Fakta Diskriminasi Rezim Soeharto Terhadap Umat Islam. Yogyakarta : Wihdah Press, 1998



Read More..

Selasa, 24 Mei 2011

Tafsir Tematik

Pendahuluan

Bahwa Al-Qur’an al-karim memiliki peran besar dalam berbagai urusan Islam dan umat Islam, memberi petunjuk ke jalan yang lurus, sebagai menara yang dapat mengarahkan falsafah mereka baik jiwa dan mental mereka, didalamnya terdapat dasar-dasar agama, pondasi-pondasi syariat (undang-undang), petunjuk pada kemuliaan akhlak dan hukum, pencerah akan realitas hari kebangkitan dan hari pembalasan, pembimbing ke jalan kebenaran dan kejujuran, penyingkap rahasia kehidupan dan alam, kehidupan sosial dan ekonomi, serta berita tentang umat masa lampau dan negeri-negeri umat terdahulu.

Singkatnya Al-Qur’an adalah pengarah mereka dalam segala aspek kehidupan, interaksi dan fenomena-fenomena sosial mereka.



Latar Belakang Tafsir Tematik


Beberapa macam metode yang digunakan dalam ilmu tafsir antara lain metode tahlili (klasik), semantic, semiotic dan tematik atau maudlu’i. Penulis disini hanya akan menguraikan satu metode yang dianggap paling sempurna dan bisa menjadikan Al Qur’an berbicara dengan umat manusia. Metode tersebut adalah tafsir tematik.
Melihat kekurangan dari metode klasik, diantaranya pertama, memperlakukan ayat secara atomistik, individual dan terlepas dari konteks umumnya sebagai kesatuan, padahal al-Qur`an adalah satu kesatuan yang utuh, dimana ayat dan surat yang satu dengan lainnya saling terkait. Kedua, kemungkinan masuknya ide mufasir sendiri yang tidak sesuai dengan maksud ayat yang sebenarnya. Kritik bint al-Syathi ini bukan tidak beralasan. Kenyataanya, setelah tafsir al-Thabari, kitab-kitab tafsir senantiasa memiliki corak tertentu yang bisa dirasakan secara jelas bahwa penulisnya ‘memaksakan sesuatu pada al-Qur`an’, berupa faham teologi, fiqh, tasawuf atau setidaknya aliran kaidah bahasa tertentu. Ini bisa dilihat, misalnya, pada tafsir al-Kasysyaf karya al-Zamakhshari (1074-1143), Anwâr al-Tanzîl karya al-Baidlawi (w. 1388) atau Bahr al-Muhît karya Abu Hayyan (1344). Maka pada bulan Januari 1960, Syaikh Al-Azhar, Mahmud Syaltut, menerbitkan Tafsirnya, Tafsir Al-Qur'an Al-Karim. Di situ beliau menafsirkan Al-Quran bukan ayat demi ayat, tetapi dengan jalan membahas surat demi surat atau bagian suatu surat, dengan menjelaskan tujuan-tujuan utama serta petunjuk-petunjuk yang dapat dipetik darinya. Walaupun ide tentang kesatuan dan isi petunjuk surat demi surat telah pernah dilontarkan oleh Al-Syathibi (w. 1388 M), tapi perwujudan ide itu dalam satu kitab Tafsir baru dimulai oleh Mahmud Syaltut. Metode ini, walaupun telah banyak menghindari kekurangan-kekurangan metode lama, masih menjadikan pembahasan mengenai petunjuk Al-Quran secara terpisah-pisah, karena tidak kurang satu petunjuk yang saling berhubungan tercantum dalam sekian banyak surat yang terpisah-pisah. Contoh dalam tafsir ini, Surat Al Kahfi, berarti gua sebagai perlindungan. Maka sebagian besar ayat ayat yang terkandung didalamnya dikaitkan dengan perlindungan tersebut.
Melihat masih adanya kelemahan tafsir tersebut maka Prof. Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy, Ketua Jurusan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar sampai tahun 1981 mengenalkan pada umat islam dengan metode maudlu’I atau tematik.

Urgensi Tafsir Tematik

Ahmad Sayyid al-Kumiy, seorang ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Mesir mengatakan “masa kita sekarang ini membutuhkan metode tafsir mawdhu’iy dimana metode ini dapat mengantarkan kita kepada suatu maksud dan hakikat satu masalah dengan cara yang paling mudah. Terlebih-lebih pada masa kini, telah banyak bertaburan debu-debu terhadap hakikat ajaran agama, sehingga tersebarlah doktrin-doktrin ajaran dan idiologi yang keliru sehingga langit kehidupan manusia dipenuhi oleh awan kesesatan dan kesamaran”.

Pernyataan di atas, semakin mempertegas urgensi dan keberadaan tafsir tematik (mawdhu’iy) sebagai sebuah solusi cerdas dalam upaya membumikan al-Qur’an ditengah-tengah kehidupan masyarakat secara tepat. Karena metode ini berusaha untuk menghindari mufassir dari kesalahan-kesalahan dalam pemahaman dan mampu menolak kesamaran dan kontradiksi serta menghindari pemahaman terhadap al-Qur’an secara parsial (sepotong-sepotong).

Pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an secara bebas dan tak beraturan akan menyebabkan “pemaksaan” dan bahkan “pemerkosaan” terhadap makna ayat itu sendiri sehingga lahirlah pemahaman-pemahaman yang subjektif dan kontradiktif sehinga pada gilirannya tidak hanya merusak makna ayat al-Qur’an itu sendiri, akan tetapi juga meresahkan masyarakat dan mencederai kerukunan hidup beragama.

Contoh kasus yang masih segar dan aktual adalah keyakinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) terhadap “Mirza Ghulam Ahmad” sebagai nabinya setelah Nabi Muhammad SAW. Menurut mereka bukanlah Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, karena Nabi terakhir itu bernama Ahmad bukan Muhammad. Keyakinan ini mereka dasari kepada firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat ash-Shaff: 6. Di dalam surat ash-Shaff: 6 terdapat kalimat : aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Dengan demikian Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) memahami “bahwa nabi yang akan datang sesudah nabi Isa a.s itu bernama “Ahmad” dan bukan Muhammad, yang akhirnya mereka kenal dengan Mirza Ghulam Ahmad.

Kasus-kasus seperti ini merupakan bentuk pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an secara parsial tanpa mengkajinya secara komprehensif dan meneliti kosa kata/bentuk pengungkapannya secara kebahasaan begitu juga tidak mengkaitkannya dengan penjelasan ayat-ayat lain. Maka dengan penerapan metode tafsir tematik (mawdhu’iy) kerancuan terhadap pemahaman ayat-ayat ini insya Allah akan dapat diluruskan. Misalnya Ahmad yang disebut sebagai Nabi yang akan datang sesudah Nabi Isa yang mereka sebut dengan “Mirza Ghulam Ahmad”, menurut beberapa penjelasan sebenarnya Allah SWT bukan bermaksud menyebut nama tetapi ingin menyampaikan bahwa orang tersebut “namanya sangat terpuji” sehingga diungkap dengan sighat/bentuk kalimat “isim tafdhil”, namun yang dimaksud tetap Muhammad SAW karena dialah manusia yang paling terpuji dan banyak disanjung namanya di permukaan bumi ini.

Makna Tafsir Tematik dan Perkembangannya

Diantara tafsir yang terkenal dan banyak diminati oleh para ulama dan menjadi prioritas utama adalah tafsir maudu’i (tafsir tematik) yaitu “ilmu yang membahas didalamnya tentang tema-tema khusus Al-Qur’an al-karim, menyatu dalam makna dan tujuan, menghubungkan kesatuan ayat-ayat yang berpencar-pencar, lalau diteliti dengan bentuk dan syarat tertentu guna menjelaskan maknanya dan mengekplorasi inti-intinya dan mengikatnya dalam tema yang satu”.(1) Sebagian ulama muslim banyak melakukan hal ini dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan kondisi dan realita kehidupan umat, sesuai dengan kebutuhan umat dalam memahami nilai-nilai dan adab yang terkandung didalamnya, mereka melakukannya dengan penuh ketenangan dan ketentraman, jauh dari penyimpangan dan penyalahgunaan dan tanpa ada yang dilebih-lebihkan seperti yang pernah dilakukan oleh para pendahulu dari para sahabat dan tabi’in, hingga akhirnya kemukjizatan Al-Qur’an dapat terus dirasakan, tampak hujjah Allah yang begitu mulia disepanjang zaman, dan hikmahnya disetiap tempat begitu terasa, seakan wahyu Allah masih saja turun tiada hentinya.

Bahwa setiap buku atau madzhab yang ada dimuka bumi ini, dalam melewati perjalanannya pasti selalu berhadapan dengan yang baru dan oleh karenanya akan terjadi perubahan dari sisi pandangan dan ijtihadnya sehingga mampu menjawab realita dan kondisi yang sesuai dengan zaman, kecuali Al-Qur’an, karena Al-Qur’an elastis sejalan dengan perubahan zaman sesuai dengan kehidupan manusia, Al-Qur’an akan selalu seiring dengan kehidupan manusia sepanjang masa, namun karena itulah manusia membutuhkan tafsir yang baru yang sesuai dengan kehidupan mereka, yang dapat menentramkan jiwa mereka tanpa menyimpang dari sunnah Rasulullah saw dan perkataan para sahabat dan tabiin.

Para ulama dahulu sangat berpegang teguh pada tafsir Al-Qur’an dengan sunnah As-syarifah dan ucapan para sahabat, namun para ulama –sebagai usaha mencari tambahan intisari yang dipetik dari suatu hukum dan pendapat yang sesuai dengan kondisi zaman- memaksa diri untuk melakukan kerja keras dalam memahami, menalar dan menafsirkan agar keluar darinya pandangan-pandangan baru dalam menafsirkan Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an merupakan kitab Allah yang baku untuk setiap zaman dan keadaan, sehingga tidak layak jika Al-Qur’an berlaku untuk masa yang terbatas, dan yang mengatakan bahwa ini merupakan final dari suatu penafsiran terhadap Al-Qur’an adalah merupakan sesuatu yang mustahil.


MetodePenyusunan
Dalam penyusunan metode maudlu’i ini memerlukan ketelitian, kecermatan dan kritis terhadap permasalahan yang dihadapi umat islam. Seorang mufassir harus bisa berpikir proporsional dan adaptif.


Pada tahun 1977, Prof. Dr. Abdul Hay Al-Farmawiy, yang juga menjabat guru besar pada Fakultas Ushuluddin Al-Azhar, menerbitkan buku Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu'i dengan mengemukakan secara terinci Prosedur yang hendaknya ditempuh untuk menerapkan metode mawdhu'iy. Prosedur tersebut adalah sebagai berikut:


1) Mencari topik/ maudlu’ yang akan dibahas.


Diharapkan tema yang dipilih adalah tema tentang permasalahan konkret yang dialami masyarakat luas. Harus sesuai dengan kondisi sekarang.


2) Menginventaris ayat ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan topik.


Klarifikasi ayat ayat al Qur’an secara menyeluruh, sehingga bisa dikatakan bahwa Al Qur’an berbicara langsung terhadap tema yng dibahas, tidak setengah-setengah.


3) Menyusun ayat menurut hirarkhinya.


Dalam klarifikasi ayat ayat tersebut diperhatikan asbabun nuzul, makiyah atau madaniyah, mutlaq muqoyyadnya, yang global dan terperinci. Dibutuhkan juga sebuah analisa semantic, analisis bahasa untuk mengetahui makna terdalam dalam lafazd-lafazd ayat Al Qur’an. Analisis ini dikenalkan pada1966 oleh Toshihiko Izutsu
4) Munasabah antar ayat Al Qur’an dalam satu tema.


Sebagai penyempurnaan tafsir tahlili, maka munasabah sangat diperlukan. Dikatakan oleh Fakhruddin Al-Razi bahwa adanya keterkaitan antar ayat satu dengan yang lainnya walaupun berbeda surat. Sebuah kompleksasi Al Qur’an.


5) Memperkuat dengan Hadist Nabi.


Kesempurnaan dan penyelesaian satu tema belum cukup dengan ayat ayat Al Qur’an saja. Ini bisa lebih diperkuat lagi dengan menggunakan dalail dalail lainnya seperti hadist nabi. Atau bisa juga dengan menggunakan ijtihad para ulama dan qiyas. Sehingga tema tersebut memiliki referensi yang lengkap dan kuat.

Langkah-langkah Operasional Tafsir Tematik

Langkah-langkah operasional atau cara kerja tafsir tematik dapat dirinci sebagai berikut :

Memilih/menetapkan masalah al-Qur’an yang akan dikaji secara tematik (mawdhu’iy).
Melacak dan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah yang telah ditetapkan.
Menyusun runtutan ayat-ayat tersebut menurut kronologis masa turunnya diserta dengan pengetahuan tentang latar belakang turunnya ayat atau asbab al-nuzul.
Mengetahui korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut dalam masing-masing suratnya.
Menyusun bahasan dalam kerangka yang pas, sistematis, sempurna dan utuh (out line).
Melengkapi bahasan dengan uraian hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan.
Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh dengan menghimpun ayat-ayat yang seruapa lalu ,mengkompromikan antara pengertian yang ’am (umum) dengan khash (khusus), antara yang muthlaq dengan muqayyad (terikat), mensingkronkan antara ayat-ayat yang tampak kontradiktif sehingga semuanya bertemu dalam satu muara tampa perbedaan dan pemaksaan.
Melahirkan konsep yang utuh dari al-Qur’an tentang satu topik masalah yang telah dipilih di atas.
Menurut analisa M. Quraish Shihab, meskipun dalam cara kerja metode tafsir ini secara tegas tidak mengharuskan mufassir untuk menguraikan kosa kata, namun kesempurnaan pemahaman ayat akan didapat apabila sejak awal sang mufassir berusaha memahami arti kosa kata/pengungkapan ayat tersebut dengan menjelaskan bentuk dan kedudukan i’rab misalnya dengan merujuk kitab-kitab/kamus bahasa al-Qur’an dan sejenisnya.



Keistimewaan Metode Tematik.


Tafsir tematik adalah metode tafsir secara konvergensi. Artinya semua metode yang ada sebelumnya diadopsi dan disempurnakan sehingga mencapai suatu kesimpulan kebenaran yang obyektif.


Beberapa Mazaya/ keistimewaan metode ini adalah:


1) Memperoleh pemahaman Al Qur’an secara menyeluruh dan utuh terhadap satu permasalahan tertentu.


2) Relevan dengan kebutuhan masyarakat umum. Artinya metode ini praktis dan komperhensif.
3) Membuktikan bahwa Al Qur’an sebagai problem solver dalam kehidupan ini.
4) Membuktikan bahwa islam adalah agama yang Syumul. Semua aspek kehidupan diatur didalamnya dengan diperkuat dengan dalil hadist nabi.

Perbedaan Metode Tematik Dengan Metode Analisis

Yang dimaksud dengan metode analisis adalah "penjelasan tentang arti dan maksud ayat-ayat Al-Quran dari sekian banyak seginya yang ditempuh oleh mufasir dengan menjelaskan ayat demi ayat sesuai urutannya di dalam mush-haf melalui penafsiran kosakata, penjelasan sebab nuzul, munasabah, serta kandungan ayat-ayat tersebut sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir itu".

Metode tersebut jelas berbeda dengan metode Mawdhu'iy yang telah digambarkan langkah-langkahnya di atas. Perbedaan itu antara lain, pertama, mufasir mawdhu'iy, dalam penafsirannya, tidak terikat dengan susunan. ayat dalam mush-haf, tetapi lebih terikat dengan urutan masa turunnya ayat atau kronologi kejadian, sedang mufasir analisis memperhatikan susunan sebagaimana tercantum dalam mush-haf.

Kedua, mufasir Mawdhu'i tidak membahas segala segi permasalahan yang dikandung oleh satu ayat, tapi hanya yang berkaitan dengan pokok bahasan atau judul yang ditetapkannya. Sementara para mufasir analisis berusaha untuk berbicara menyangkut segala sesuatu yang ditemukannya dalam setiap ayat. Dengan demikian mufasir Mawdhu'i, dalam pembahasannya, tidak mencantumkan arti kosakata, sebab nuzul, munasabah ayat dari segi sistematika perurutan, kecuali dalam batas-batas yang dibutuhkan oleh pokok bahasannya. Mufasir analisis berbuat sebaliknya.

Ketiga, mufasir mawdhu'i berusaha untuk menuntaskan permasalahan-permasalahan yang menjadi pokok bahasannya. Mufasir analisis biasanya hanya mengemukakan penafsiran ayat-ayat secara berdiri sendiri, sehingga persoalan yang dibahas menjadi tidak tuntas, karena ayat yang ditafsirkan seringkali ditemukan kaitannya dalam ayat lain pada bagian lain surat tersebut, atau dalam surat yang lain.

Perbedaan Metode Tematik dengan Metode Komparasi

Yang dimaksud dengan metode komparasi adalah "membandingkan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi, yang berbicara tentang masalah atau kasus yang berbeda, dan yang memiliki redaksi yang berbeda bagi masalah atau kasus yang sama atau diduga sama. Termasuk dalam objek bahasan metode ini adalah membandingkan ayat-ayat Al-Quran dengan hadis-hadis Nabi saw., yang tampaknya bertentangan, serta membandingkan pendapat-pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran ayat-ayat Al-Quran.

Dalam metode ini, khususnya yang membandingkan antara ayat dengan ayat seperti dikemukakan di atas, sang mufasir biasanya hanya menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan kandungan yang dimaksud oleh masing-masing ayat atau perbedaan kasus atau masalah itu sendiri.

Mufasir yang menempuh metode ini, sepert misalnya Al-Khatib Al-Iskafi dalam kitabnya Durrah Al-Tanzil wa Ghurrah Al-Ta'wil, tidak mengarahkan pandangannya kepada petunjuk-petunjuk yang dikandung oleh ayat-ayat yang dibandingkannya itu, kecuali dalam rangka penjelasan sebab-sebab perbedaan redaksional. Sementara dalam metode Mawdhu'i, seorang mufasir, disamping menghimpun semua ayat yang berkaitan dengan masalah yang dibahas, ia juga mencari persamaan-persamaan, serta segala petunjuk yang dikandungnya, selama berkaitan dengan pokok bahasan yang ditetapkan.

Di sini kita melihat bahwa jangkauan bahasan metode komparasi lebih sempit dari metode Mawdhu'i, karena yang pertama hanya terbatas dalam perbedaan redaksi semata-mata. Membandingkan ayat dengan hadis, yang kelihatannya bertentangan, dilakukan juga oleh ulama hadis, khususnya dalam bidang yang dinamakan mukhtalif al-hadits. Sikap ulama dalam hal ini berbeda-beda. Abu Hanifah dan penganut mazhabnya menolak sejak dini hadis yang bertentangan atau tidak sejalan dengan ayat Al-Quran. Sementara itu, Imam Malik dan penganut mazhabnya dapat menerima hadis yang tidak sejalan dengan ayat, apabila ada qarinah (pendukung bagi hadis tersebut) berupa pengalaman penduduk Madinah atau ijma' ulama. Lainnya, Imam Syafi'i, berupaya untuk mengkompromikan ayat dan hadis tersebut, khususnya jika sanad hadis tersebut sahih.



Kitab Tafsir Tematik
Sebuah kesempurnaan dalam sebuah pemahaman terhadap alQur’an. Al Qur’am mampu menemani dan berbicara dengan dunia alam semesta sepanjang zaman. Beberapa kitab tafsir ytang menggunakan metode tematik ini adalah
1) Pada tahun 1977, Prof. Dr. Abdul Hay Al-Farmawiy, yang juga menjabat guru besar pada Fakultas Ushuluddin Al-Azhar, menerbitkan buku Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu'i
2) Prof. Dr. Al-Husaini Abu Farhah menulis Al-Futuhat Al-Rabbaniyyah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu'i li Al-Ayat Al-Qur'aniyyah
3) Al bayan Fi Aqsamil Qur’an, oleh Ibnu Qoyyim
4) Majazul Qur’an, oleh Abu Ubaidah
5) Mufrodatul Qur’an, oleh Ar Raghib
6) Nasikh Wa Mansukh Minal Qur’an, oleh Abu Ja’far An Nuhas
7) Asbabun Nuzul, oleh Al Wahidi
8) Ahkamul Qur’an, oleh Al Jashshash


Objektifitas Penafsiran

Dalam membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir menyangkut ayat Al-Quran, ada beberapa hal yang perlu mendapat sorotan:

(1) Kondisi sosial politik pada masa seorang mufasir hidup;
(2) Kecenderungannya dan latar belakang pendidikannya;

(3) Pendapat yang dikemukakannya --apakah pendapat pribadi, ataupun pengembangan pendapat sebelumnya, atau juga pengulangannya;

(4) Setelah menjelaskan hal-hal di atas, pembanding melakukan analisis untuk mengemukakan penilaiannya tentang pendapat tersebut --baik menguatkan atau melemahkan pendapat-pendapat mufasir yang diperbandingkannya.

Penutup

Sebelum mengakhiri tulisan ini, perlu digarisbawahi beberapa masalah, agar seorang yang bermaksud menempuh metode Mawdhu'i atau membaca penafsiran yang menempuh metode tersebut tidak terjerumus kedalam kesalahan atau kesalahpahaman.

Hal-hal tersebut adalah:

(1) Metode Mawdhu'i pada hakikatnya tidak atau belum mengemukakan seluruh kandungan ayat Al-Quran yang ditafsirkannya itu. Harus diingat bahwa pembahasan yang diuraikan atau ditemukan hanya menyangkut judul yang ditetapkan oleh mufasirnya, sehingga dengan demikian mufasir pun harus selalu mengingat hal ini agar ia tidak dipengaruhi oleh kandungan atau isyarat-isyarat yang ditemukannya dalam ayat-ayat tersebut yang tidak sejalan dengan pokok bahasannya.
(2) Mufasir yang menggunakan metode ini hendaknya memperhatikan dengan seksama urutan ayat-ayat dari segi masa turunnya, atau perincian khususnya. Karena kalau tidak, ia dapat terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan baik di bidang hukum maupun dalam perincian kasus atau peristiwa.

(3) Mufasir juga hendaknya memperhatikan benar seluruh ayat yang berkaitan dengan pokok bahasan yang telah ditetapkannya itu. Sebab kalau tidak, pembahasan yang dikemukakannya tidak akan tuntas, atau paling tidak, jawaban Al-Quran yang dikemukakan menjadi terbatas. Wallahu a’lam bil as shawab.

________________

By: Chusnul Azhar



Read More..

Senin, 23 Mei 2011

Puasa Ramadhan

A. pengertian

Puasa menurut bahasa adalah menahan. Sedangkan menurut syara’ adalah menahan dalam pengertian yang khusus yaitu menahan diri dari makan, minum, jima’ (hubungan badan) dan yang selainnya – yang telah ditetapkan oleh syara’ – pada siang hari, dengan cara yang disyariatkan pula.

B. Hukum berpuasa di bulan Ramadhan

Puasa Ramadhan hukumnya wajib menurut al-Qur’an, Hadits dan ijma’

C. Orang yang terkena wajib puasa Ramadhan

Kewajiban melaksanakan ibadah puasa Ramadhan hanya dikenakan pada orang-orang yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

Ø Orang islam.

Ketentuan ini didasarkan pada surat al-Baqarah ayat 183 yang menegaskan bahwa yang terkena kewajiban menjalankan ibadah puasa Ramadhan hanyalah orang-orang mukmin atau orang-orang beriman.



Ø Berakal sehat.

Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa: “tiga golongan yang terlepas dari hukum (syara’), yaitu orang-orang yang sedang tidur hingga ia bangun, orang gila atau hilang ingatan sempai sembuh atau sadar, dan anak-anak hingga baligh” (HR. Abu Dawud dan Nasai)

Ø Orang yang sudah baligh

Dasar ketentuan ini didasarkan pada hadits di atas.

Ø Sehat jasmani.

Hal ini didasarkan pada firman Allah yang tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 184 yang menyatakan bahwa orang yang sedang menderita sakit atau sedang musafir baginya diperkenankan tidak berpuasa. Dari penegasan ini dapat diambil pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah) bahwa bagi orang yang tidak sakit atau orang yang mukmin, maka bagi keduanya terkena wajib puasa Ramadhan.

Ø Orang yang mukim atau menetap.

Ø Wanita yang sedang tidak menstruasi atau sedang tidak bernifas.

Penegasan ini berdasarkan pada hadits Rasulullah yang menerangkan bahwa kalau seorang wanita yang sedang menstruasi atau sedang nifas maka harus membuka puasanya, dan ketika sudah suci ia wajib mengaqadha’nya.

“Adalah kami menstruasi di masa Rasulullah, maka kami diperintahkan agar supaya mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat” (HR. Jama’ah dari Mu’az r.a)

Tingkatan golongan yang tidak puasa Ramadhan
1) Tidak wajib sama sekali

Ada dua golonga yang sama sekali tidak berwajiban menjalankan puasa Ramadhan yaitu:

a) Orang kafir

Alasan dari penegasan ini didasarkan pada surat al-Baqarah ayat 183 yang menyatakan bahwa perintah puasa Ramadhan itu hanya khusus ditujukan pada orang-orang beriman saja, bukan untuk orang kafir.

b) Orang gila (berdasarkan hadits di atas)

2) Wajib berbuka, dan wajib mengqadha

Yang termasuk kategori ini adalah kaum wanita yang sedang menstruasi dan sedang nifas. Bagi kedua golongan ini wajib berbuka dan haram berpuasa.

3) Boleh berbuka puasa dan wajib membayar fidiyah.

Yang termasuk pada golongan ini ada 4, yaitu:

a) Orang yang sudah lajut usia.

Penegasan ini didasarkan pada surat al-Baqarah ayat 184: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiyah, (yaitu) memberi makan orang miskin”.

b) Orang sakit yang tidak ada harapan sembuh

c) Karyawan atau buruh yang bekerja pada berbagai pekerjaan yang berat sekali seperti pekerja tambang yang berada di bawah tanah, atau di tengah laut, pelaut, buruh-buruh kasar dan sebagainya. Dua golongan di atas di analogkan (diqiyaskan) dengan orang tua yang sudah tua renta, atau orang-orang yang memaksakan diri sebagaiman digambarkan dalam surat al-Baqarah ayat 184.

d) Wanita yang sedang mengandung atau yang sedang hamil. Berdasarkan hadits Rasulullah: “sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah membebaskan puasa dan separoh shalat bagi orang yang bepergian, serta menghapus puasa dari wanita yang hamil dan menyusui”. (HR. lima Ahli Hadits dari Anas bin Malik Ka’bi)

“dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: “ditetapkan bagi orang yang mengandung dan menyusui untuk berbuka (tidak berpuasa) dan sebagai gantinya memberi makan kepada orang miskin setiap harinya”, ( HR. Abu Dawud dari Ibnu Abbas r.a)

4) Boleh berbuka puasa, tetapi wajib mengqadha.

Termasuk kategori boleh berbuka akan tetapi wajib mengqadha ini adalah mereka yang ditunjuk secara jelas oleh surat al-Baqarah: 194, yaitu:

a. Orang yang menderita sakit.

b. Musafir.

Rukun puasa Ramadhan
v Niat puasa ramadhan.

Niat puasa Ramadhan ini wajib dilakukan pada tiap-tiap malam sebelum fajar yang wujudnya bukan berupa susunan kata atau kalimat tertentu, melainkan kebulatan hati serta kesengajaan hati (al-qashdu) untuk melakukan puasa karena mengikuti perintah Allah guna mendekatkan diri kepada-Nya dengan ikhlas. Dengan demikian seseorang yang pada malam harinya makan sahur, atau berniat tidak akan makan, minum, jima’ di siang hari cukup disebut niat sekalipun tidak makan sahur.

Ketentuan sebagaiman di atas didasarkan pada tuntunan Rasulullah yang menerangkan bahwa: “barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidaklah sah puasa baginya”. (HR. lima ahli hadits dari Ibnu Umar r.a)

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa puasa sunat boleh berniat pada siang harinya. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits Rasulullah saw.

Berkatalah Aisyah r.a “pada suatu hari Rasulullah datang kerumahku seraya berkata, “apakah kamu ada sesuatu makanan?. Akupun menjawab: “tidak” bersabdalah Rasulullah saw.: “kalau begitu aku berpuasa” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

v Menahan diri dari segala hal dan perbuatan yang dapat membatalkan puasa dari sejak fajar sampai terbenamnya mata hari.




Amalan yang membatalkan puasa.
dalam pembahasan masalah puasa akan ditemukan beberapa amalan yang dapat mengakibatkan rusak atau batalnya puasa seseorang dan sebagai akibatnya ia berkawajiban untuk menggantinya dengan puasa sebanyak hari-hari yang rusak oleh karenannya.

Beberapa amalan yang membatalkan puasa tersebut secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

Yang membatalkan puasa dan dan akibatnya harus mengqadha.
a. Makan dan minum dengan sengaja

b. Muntah dengan sengaja.

“barang siapa terpaksa muntah niscaya tidak ada qadha baginya. Dan barang siapa yang sengaja muntah, hendaklah ia mengqadhanya.” (HR Ahmad dari Abu Hurairah r.a)

c. Keluar darah haid (menstuasi) atau nifas (darah karena akibat melahirkan)

d. Mengeluarkan mani secara sengaja (onani)

Yang membatalkan puasa dan oleh karena itu wajib qadha dan kafarat.
Yang termasuk kategori ini hanyalah mereka yang berhubungan badan dengan istrinya di siang hari di bulan ramadhan. Kepada seorang yang batal puasanya lantaran sebab seperi di atas kepadanya wajib mengqadha puasa yang di tinggalkannya, serta membayar kafarat yang wujud dan urutannya sebagai berikut:

Memerdekakan seorang budak
Puasa dua bulan berturut-turut
Bemberi makan sebanyak enam puluh orang fakir miskin.
Beberapa amalan utama dalam ibadah puasa
a. Mempercepat berbuka puasa apabila telah diketahui secara jelas matahari telah terbenam. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah “berkata Allah Azza wa Jalla: “sesungguhnya orang yang paling aku senangi dari hamba-Ku ialah yang paling segera berbuka”. (HR turmuzi dari Abu Hurairah)

b. hendaklah membaca do’a:



“telah hilang rasa haus, dan telah basah pula segala urat dan mudah-mudahan pahala tetap jika Allah menghendakinya”. (HR Daruquthni dari Ibnu Umar r.a)

c. makan sahur yang dikerjakan pada akhir malam.

Hal ini berdasarkan pada tuntunan Rasulullah saw:

“Bersahurlah kalian, karena dalam bersahur itu ada keberatan” (HR Bukhari Muslim, dan Ahmad dari Anas r.a)

“kami telah makan sahur bersama Rasulullah saw, kemudian kami berdiri melaksanakan shalat (subuh). Aku bertanya kepada Zaid: “berapa lamakah tempo antara sehabis makan dan sahur dengan shalat tersebut?” Zaid menjawab: “kira-kira lima puluh ayat al-Qur’an”. (HR Bukhari, Muslim dari Zaid bin Tsabit r.a.)


_______
oleh: Chusnul Azhar


Read More..

Jumat, 20 Mei 2011

Fiqih Klasik Vs Fiqih Kontemporer

Pengelompokan pemikiran Islam kedalam Islam pluralis, Islam liberal, dan Islam substantif telah masuk ke dalam relung-relung masyarakat dan budaya Islam melalui banyak tulisan. Hal ini terjadi sebagai proses interaksi pemikiran, meskipun pemasungan dan hujatan dari kelompok-kelompok yang tidak sepaham, telah dapat dihindari, model pemikiran Islam kategoritatif tidak pernah akan surut.


Islam Sebagai Syari’ah


Lapangan syari’ah lebih luas daripada lapangan fiqih, karena lapangan syari’ah adalah apa saja yang tercakup dalam ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf / akhlaq. Atau dengan kata lain, fiqih adalah sebagian dari isi syari’ah, karena pengertian syari’ah ialah keseluruhan agama bukan fiqih ansich. Segi pemisahan yang lain ialah bahwa fiqih tidak mendapat kedudukan dan penghormatan yang tinggi seperti syari’ah, karena fiqih sebagai ilmu adalah hasil pikiran manusia, sedang syari’ah datang dari Tuhan.




Fiqih Sebagai Hasil Interpretasi Syari’ah


Dalam epistomologi keilmuan Islam klasik, Fiqih sebagi salah satu cabang keilmuan dalam Islam seakan topik bahasan yang tidak ada habisnya, topik-topik keilmuan fiqih pada zaman klasik dianggap sebagai (mahadewa) yang tiada tandingannya. Konsepsi tentang fiqih yang dianggap sebagai (Undang-Undang Ketiga) dan yang berkuasa mengatur kehidupan umat Islam seakan menyamai popularitas dari (Teologi Kalam) yang pernah ada dan mensejarah dalam kazanah keilmuan Islam.


Fiqih klasik yang diplot menjadi produk ilmu hukum Islam yang mengatur pelaksanaan ibada-ibadah ritual, yang menguraikan tentang detail perilaku Muslim dan kaitannya dengan lima prinsip pokok (wajib, sunnah, haram, makruh, mubah), serta yang membahas tentang hukum-hukum kemasyarakat (muamalat), sampai saat ini dirasa oleh sebagian kalangan sebagai ilmu yang sempurna, dan seakan tidak akan pernah tergoyahkan dan bahkan tidak sedikit dari berbagai kalangan tersebut melestarikan tadisi fiqih yang menjadi produk keilmuan pada masa lalu.


Sebuah pertanyaan besar yang ada di masa sekarang adalah, apakah fiqih klasik masih dapat dan bisa digunakan sebagai solusi untuk menjawab persoalan-persoalan ke-ummatan, sedangkan fiqih klasik adalah produk lama yang dimiliki ummat Islam, dan dengan melihat motif, illat (sebab), dan kondisi sosial yang jauh berbeda dengan masa sekarang, apakah pola fikir klasik juga tidak perlu direkontruksi? Jawaban dari pertanyaan itulah yang mendasari pemikiran imajiner tehadap kemunculan istilah fiqih kontemporer dengan berlandaskan dari sebuah Ijtihad kontemporer.


Dalam masa sekarang ini, kelompok Islam modernis (kontemporer) yang dimotori oleh para pembaharu Islam seperti Yusuf Al-Qordhawi dan yang lain, memandang bahwa kajian fiqih seharusnya tidak saklek dan menjustifikasi sebuah hukum pada masa lampau sebagai sebuah kebenaran mutlaq, dan harusnya fiqih menjadi bahasan aktulal yang mendorong terhadap adanya kemungkinan untuk melakukan sebuah Ijtihad baru yang benar dan dipertanggungjawabkan . Pendapat ini didasarkan atas pemikiran bahwa dalam sejarah fiqih Islam, fungsi Ijtihad ini pernah mengalami kemandekan, karena munculnya institusi ijtihad yang telah dibatasi oleh kelembagaan para mujtahid mutlaq, seperti istitusi empat Imam Mazhab yang sangat populer.


Senada dengan pertimbangan di atas, banyak dari beberapa tokoh kontemporer yang menyatakan bahwa akibat dari timbulnya empat mazhab, ummat Islam banyak mengalami kemunduran dan era taqlid yang begitu panjang, dan terlepas dari kualitas dasar-dasar fiqih (Ushul Fiqih dan Qawaidul Fiqih) yang telah ditatarkan oleh para imam tersebut , disisi lain mereka menganggap bahwa persoalan keilmuan fiqih tidak hanya berhenti di situ saja, persoalan sosial yang masuk dalam kajian ilmu fiqih selalu berkembang sesuai dengan konteks dan perkembangan zaman.


Nalar-kritis Metode-metode Klasik


Perkembangan pemikiran keislaman dalam sepanjang sejarahnya telah menunjukkan adanya varian-varian yang khas sesuai dengan semangat zamannya. Varian-varian itu berupa semacam metode, visi, dan kerangka berpikir yang berbeda-beda antara satu pemikiran dengan pemikiran lainnya.


Ajaran dan semangat Islam akan bersifat universal (melintasi batas-batas zaman, ras, dan agama), rasional (akal dan hati nurani manusia sebagai partner dialog), dan necessary (suatu keniscayaan dan keharusan yang fitri), tetapi respon historis manusia dimana tantangan zaman yang mereka hadapi sangat berbeda dan bervariasi, maka secara otomatis akan menimbulkan corak dan pemahaman yang berbeda pula. Dalam konteks ini, ijtihad merupakan sesuatu yang tak pernah ditutup tetapi harus selalu digelorakan.


Dalam kontek mengelorakan ijtihad, Ilmu ushul Fiqih merupakan perangkat metodologi baku yang telah dibuktikan perannya oleh para pemikir Islam semisal Imam mazhab dalam menggali hukum Islam, dan dalam bidang yang lain, dari sumber aslinya (al-Qur’an dan as-Sunnah). Namun dewasa ini fiqih Islam dianggap mandul karena peran kerangka teoritik ilmu ushul fiqih dirasa kurang relevan lagi untuk menjawab problem kontemporer. Hal ini memunculkan kesulitan-kesulitan dalam menjawab problem kontemporer.


Kesulitan-kesulitan yang dihadapi pemikiran Islam kontemporer menjadi lebih akut oleh kenyataan bahwa penggunaan metode muslim klasik tidak dapat dengan mudah menggantikan tugas menanggulangi ketidakcukupan ilmu-ilmu Barat. Ini karena ilmu-ilmu klasik dengan sendirinya tidak memadai untuk mengarahkan aktivitas-aktivitas ilmiah modern. Ketidak cukupan ini telah menjadi sorotan sejumlah pakar muslim. Al-Faruqi misalnya menyatakan bahwa ketidakcukupan metode-metode tersebut terungkap dalam dua kecenderungan yang saling berlawanan secara diametral. Kecenderungan pertama adalah pembatasan lapangan ijtihad ke dalam penalaran legalistik yakni memasukkan problem-problem modern di bawah kategori-kategori legal, sehingga dengan cara demikian mereduksi mujtahid kepada faqih (jurist) dan mereduksi ilmu ke dalam fiqih. Kecenderungan kedua adalah menghilangkan seluruh criteria dan standar rasional dengan menggunakan "metodologi yang murni intuitif dan esoteris".


Keprihatinan serupa juga disampaikan oleh Abdul Hamid Sulayman yang mengaitkan krisi intelektualisme muslim modern dengan ketidakcukupan metodologis yang menimpa pemikiran muslim kontemporer, yang memanifestasikan dengan sendirinya dalam penggunaan pola pikir yang semata-mata linguistik dan legalistik. Konsekuensinya meskipun seorang faqih dididik untuk menangani problem-problem legal spesifik, kenyataannya dia terus dipahami sebagai orang yang serba bisa, intelektual universal yang mampu memecahkan seluruh problem masyarakat modern. Akibatnya untuk menjawab problem-problem kontemporer masih selalu mengandalkan informasi dari kitab-kitab klasik secara tektual tanpa diimbangi kemauan menangkap makna substansinya apalagi metode berpikirnya.


Aspek lain dari ketidakcukupan metode-metode klasik diungkapkan oleh Muna Abu Fadl. Alasan metode klasik tidak memadai, menurutnya, adalah bahwa bila studi fenomena sosial mengharuskan suatu pendekatan holistic yang dengan cara itu relasi-relasi sosial disistematisasikan menurut aturan-aturan universal, metode klasik bersifat atomistik yang pada dasarnya disandarkan pada penalaran analogis. Oleh karenanya, kiranya cukup alasan jika muncul banyak tawaran metodologi baru dari para pakar Islam kontemporer dalam usaha menggali hukum Islam dari sumber aslinya untuk disesuaikan dengan dinamika kemajuan zaman.


Kenyataan ini tidak bisa ditolak karena fenomena keangkuhan modernitas dan industrialisasi global telah menghegemoni seluruh lini kehidupan anak manusia sehingga memicu dinamika pemikiran Islam kontemporer dengan segala perangkat-perangkatnya termasuk metodologi ushul al-fiqh dan qawaid al-Fiqhiyyah. Dinamika yang dimaksud adalah bahwa perlu dilakukan upaya inkorporasi wahyu ke dalam penelitian ilmiah guna membebaskan sarjana- sarjana muslim dari paksaan epistemologi Barat. Hal ini merupakan pekerjaan besar yang harus dilakukan dalam rangka membangun cita diri Islam di tengah kehidupan modern yang senantiasa berubah dan berkembang. Di Indonesia pada dasawarsa terakhir telah muncul perkembangan pemikiran hukum Islam yang disesuaikan dengan kondisi riil kehidupan di Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa fiqih klasik sudah tidak mampu menjawab persoalan-persoalan kontemporer.


Fikih Kontemporer Sebagai Korporasi Wahyu dan Metode Ilmiah (Pendekatan Burhani)


Menjadi kebiasaan para mujtahid, mereka tidak pernah memaksakan hasil ijtihadnya kepada orang lain untuk mengikutinya, bahkan mempersilahkan meninggalkannya ketika didapatkan hasil ijtihad yang lebih valid.


Pada zaman modern, Islam berada dalam ujian yang sangat berat, khususnya ujian epistemologis. Ilmu ushul fiqih yang mestinya dapat berperan sebagai metodologi baku bagi seluruh pemikiran intelektual Islam, dipersempit wilayah kerjanya hanya terbatas dalam bidang hukum Islam. Oleh karenanya sangat beralasan jika dikatakan bahwa kemunduran fiqih Islam dikarenakan kurang relevannya perangkat teoritik ilmu ushul fiqih untuk memecahkan masalah-masalah kontemporer. Hal inilah yang kemudian menjadikan pekerjaan besar bagi para pemikir Islam untuk merumuskan dan memberikan solusi intelektual terhadap permasalahan tersebut. Al-Jabiri misalnya melihat ada tiga tipologi dalam wacana pemikiran Islam, yaitu modernis (‘asraniyyun, hadathiyyun), tradisionalis (salafiyyun), dan eklektis (taufiqiyyun). Menurut al-Jabiri, bahwa tipologi itu terjadi karena terdapat relasi signifikan pada titik tertentu antara satu konstruksi pemikiran dengan realitas sosial sebagai respon dan dialektika pemikiran terhadap fenomena yang sedang terjadi dan berkembang di masyarakat.


Doktrin ideal yang bersumber dari wahyu Tuhan, ternyata tidak mampu berhadapan dengan ujian yang satu ini, sehingga wahyu menjadi tidak dapat “difungsikan” dan “dirasakan” sebagai mana mestinya”. Demikian, agar wahyu ini dapat “difungsikan” dan “dirasakan” sebagai mana mestinya, manusia harus mengerti dan memahami substansi nilai yang terkandung di dalamnya. Manusia harus melakukan apresiasi intelektuil atas “doktrin ideal” tersebut yang ditopang dengan kerangka metodologi yang tepat. Prasarat yang harus ditepati adalah harus ada “kesepakatan” untuk melakukan pemahaman intelektual bahwa agama adalah sistem simbolik yang tidak cukup difahami sebagai formula-formula abstrak tentang kepercayaan dan nilai saja.


Apresiasi atas agama harus dilakukan pengungkapan makna dibalik teks kemudian dilakukan penafsiran. Dari sana akan tergambarkan bahwa Islam adalah ajaran yang dinamis. Dinamisme itu berada di antara Islam Ideal dan Islam Sejarah. Kedinamisan itu terletak dalam ajarannya yang menganjurkan agar akal dapat memahami ayat atau tanda yang terdapat dalam ayat. Di situlah Islam mengenal konsep ijtihad yang digunakan sebagai metode untuk merekonstruksi pemikiran Islam. Melalui cara seperti ini seorang mujtahid dapat memastikan posisi akal pikirannya dalam mencampuri hukum Allah. Ini berarti, antara akal dan wahyu harus ditempatkan pada posisi yang proporsional dalam artian bahwa wahyu tidak akan mengebiri akal tetapi akal dalam perannya tidak boleh melampaui wahyu karena, kebenaran wahyu bersifat mutlak dan kebenaran akal manusia bersifat relatif (nisbi). Keduanya tidak boleh saling menegasikan tetapi harus berkelindan untuk memberikan solusi terhadap problematika kehidupan. Karena wahyu sebagai teks suci dan problematika sebagai realita pada hekekatnya berasal dari sumber yang sama. Oleh karenanya dalam memahami teks harus tidak boleh terlepas dari konteks.


Hal itu penting, karena kalau kita mencoba mengkontekkan antara nash (teks suci) dan al-Waqi’ (kenyataan) maka prasarat yang harus dipahami adalah bahwa keduanya merupakan dua wilayah yang jika dapat dikawinkan maka akan memunculkan pemahaman yang komprehensip. Corak dalam membaca teks menurut asy-Syatibi ada tiga yaitu qira’ah salafiyyah, qira’ah ta’wiliyyah, dan qira’ah maqashidiyyah. Sementara dalam wilayah al-Waqi’ ada beberapa disiplin ilmu yang digunakan dalam memahami fenomena-fenomena sosial, politik dan sebagainya misalnya sosiologi, antropologi, dan seterusnya. Pada wilayah inilah metode ilmiah cukup baik untuk menjadi komandan kajian. Dengan demikian idealnya adalah ketika melakukan pembacaan teks kemudian dikontekkan pada fenomena sosial seharusnya tidak boleh meninggalkan disiplin ilmu dengan segala perangkat metode ilmiah yang ada pada wilayah al-Waqi’. Jika tidak maka pemahaman atas teks tersebut akan out of date, sehingga tidak applicable.


Pemikiran Islam Kontemporer; Contoh Kasus Sosial-Kemanusiaan


Kemunculan kasus-kasus aktual yang mengiringi zaman modern dan arus globalisasi seperti sekarang yang terjadi dalam konteks kekinian. Seperti pertama, kesehatan seperti kasus aborsi dan penjual belian organ tubuh mayat, seakan memperjelas bahwasnya fiqih masa klasik harus dicermati ulang dan direkonstruksi kembali, karena sudah jelas bahwa produk fiqih dibuat permasalahan-permasalahan tersebut belum ada, dan secara dialektika maka fiqih klasik tidak akan mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut.


Kasus lain kedua yang menjadi agenda dari format fiqih dan Ijtihad kontemporer adalah kasus ibadah haji. Seperti kita tahu semua, ibadah haji adalah ibadah yang bukan hanya melibatkan sang Kholiq (Allah SWT) dengan makhluq-Nya, karena dalam prosesi ibadah hajji terdapat interaksi sosial antar manusia. Banyaknya kasus menyedihkan sekaligus mencengangkan seperti meninggalnya jama’ah haji pada saat pelemparan jumrah aqabah karena terinjak-injak oleh sesama jama’ah haji yang lain dan berbagai kasus yang lain dan mengakibatkan meninggalnya jama’ah haji.


Dari beberapa kasus di atas seakan menjali cambuk betapa besar agenda tentang rekonsrtuksi terhadap metodologi hokum Islam klasik yang menjadi cakupan fiqih harus segera dilaksanaksan.


Dalam pandangan fiqih baru ini, syariah diharapkan tidak lagi bercorak vertikalistik, yang hanya mengupas hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan proses ijtihad ini di arahkan pada masalah-masalah kemanusiaan. Fiqih kontemporer harus didesak kearah problema-probelama aktual. Dengan mendinamiskan format fiqih yang seperti ini, diharapkan menjadi langkah awal untuk merekonstruksi syariah dari wajahnya yang statis, eksklusif dan diskriminatif menjadi wajah syariah yang dinamis, eksklusif, egaliter, rasional, empirik dengan tetap bermuara pada ranah transedental.


Penutup


Dengan kehadiran dari konsep dan format tentang fiqih kontemporer yang dihasilkan lewat sebuah proses yang kontemporer, seakan membawa angin segar dalam khazanah keilmuan Islam dalam mengartikan dan mengamalkan syariah Islam dengan penuh nitatan ikhlas dan selalu di bangun atas dasar mencari ridho Allah SWT. Fiqih kontemporer juga seakan memberikan solusi yang amat sangat signifikan untuk menjawab masalah-masalah ke-ummmat-an yang terjadi pada masa kekinian.


Diharapkan dalam format fiqih kontemporer kita sebagai manusia yang aktif dengan berbagai perkembangan yang mengikuti lebih dapat dihargai eksistensinya, dengan segala kekekurangan yang ada. Pada akhirnnya kita sebagai manusia yang hanya diberi sedikit rasio dari semua kebenaran hakiki yang di punyai oleh Allah, berusaha semaksimal mungkin menjalankan apa yang telah di perintahkan sesuai dengan kemapuan keterbatasan kita.

___________
(By: Chusnul Azhar)


Read More..